Home / Uncategorized / Renungan Buat Kita ,  Begitu sakitnya hati seorang ibu yang  menjadi TKI/PMI yang sakit keras di Malaysia yang tidak di pedulikan anak kandung nya
Renungan Buat Kita ,   Begitu sakitnya hati seorang ibu yang  menjadi TKI/PMI yang sakit keras di Malaysia yang tidak di pedulikan anak kandung nya

Renungan Buat Kita ,  Begitu sakitnya hati seorang ibu yang  menjadi TKI/PMI yang sakit keras di Malaysia yang tidak di pedulikan anak kandung nya

Bekasi 24 Maret 2025

Human Trafficking Watch HTW perwakilan Malaysia ,sudah berusaha mengurus dan mau memulangkan seorang ibu pekerja Migran atau PMI di Malaysia  dalam keadaan sakit keras atau stroke  , namun upaya memulangkan tidak tercapai karena Ibu Tutik pada tanggal 24 Maret 2025 jam 20 .00 Pagi Malaysia menghembuskan napas terakhir . demikian disampaikan Patar sihotang SH MH ketua Umum HTW di kantor HTW Pusat Jl Caman Raya no 7 Jatibening bekasi .

Patar Sihotang menjelaskan bahwa , Dewi Kolifah Ketua Human Trafficking Watch -HTW pemantau perdagangan manusia perwakilan Negara Malaysia  mengatakan bahwa   Pada 20 Maret 2025  Dia menerima panggilan telpon  dari seseorang laki -laki yang mengatasnamakan Petugas dari Hospital Serdang Selangor Darul Ehsan Malaysia, dalam komunikasi tersebut beliau menanyakan  apa benar Nomor 0136055999 atas nama Dewi Kholifah. Seterusnya menyampaikan bahwa  adanya PMI/ WNI perempuan menerima perawatan dan Dokter yang merawatnya memberi kabar bahwa pasien atas naman Tutik bisa pulang, namun persoalannya tidak ada tempat arah tujuan yang hendak di hendak tujuan atau alamat yang jelas .

Kronologis korban sampai di rumah sakit ,  berawal dari orang Melayu yang menghubunginya, menurut keterangan yang disampai oleh orang Melayu yang pertama menemukan ibu Tutik yang tergeletak di tangga mesjid yang ada diwilayah Pucung.

Atas inisiatif orang Melayu tersebut akhirnya dipanggil ambulance untuk segera dirujuk atau diantar ke Hospital Sultan Idris Shah, Serdang  ( Istilah Rumah Sakit Malaysia) yang berada di Selangor. Tidak hanya itu saja orang Melayu tersebut menghubunginya Ibu Dewi  selaku perwakilan Lembaga Human Trafficking Watch (HTW) dan Pemantau Penjualan Manusia (PPM) yang biasa menangani permasalahan atau kasus yang melibatkan  Tenaga kerja Indonesia  (TKI) di Negera Jiran Malaysia.

Menurut Dewi Kolifah berdasarkan laporan dari orang Melayu tersebut, dirinya berinisiatif untuk mengecek keberadaan Ibu Tutik di Hospital yang berlokasi di Selangor. Setelah menemui pihak Hospital atau Rumah sakit dan berdasarkan keterangan pihak Rumah sakit bahwa Ibu Tutik ini sudah lima hari di rawat dan adapun penyakit yang dideritanya adalah stroke. serta pihak Rumah Sakit memberikan informasi atau yang perlu dihubungi agar bisa menemui titik terang terkait dengan keluarga Bu Tutik, tidak sampai disitu saja menurutnya dia mengali keterangan juga dari Ibu Tutik, menurutnya waktu itu Ibu Tutik memberikan secarik kertas yang menurutnya bahwa yang tertulis di kertas tersebut adalah kakak kandungnya atas nama Moxxchamad Soleh dengan Alamat Dusun Sanxxding RT 03 RW 01 Desa Babb badan Kecamatan Ngancar Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur.

“Dengan berbekal keterangan dari pihak Rumah Sakit dan keterangan dari Ibu Tutik, saya akhirnya berinisiatif untuk membuat Group WhatsApp, dan memasukan nomor -nomor yang tertera, seperti Mohaxx mad Soleh yang merupakan Kakak Kandung dari Ibu Tutik, serta nomor empat orang anaknya, maksud saya agar bisa berkordinasi dan komunikasi sama anak -anaknya, setidaknya ada jalan keluar buat ibunya yang menderita penyakit stroke. Agar mereka mempunyai empaty dan peduli terhadap kondisi ibu kandungannya yang sementara ini sakit dan harus dipulangkan ke Indonesia,” tuturnya Dewi Melalui Komunikasi Tlpn WhatsApp.

 

Dewi juga menyayangkan terkait dengan sikap anak -anaknya, sepertinya masing -masing melepas tanggung jawab, mengingat selama ini dia sendiri menjalankan tupoksinya sebagai lembaga yang membantu teman -teman yang bermasalah di Malaysia, karena selama ini dia iklas untuk membantu, tapi dengan perlakuan dan sikap anaknya serta kakak kandungnya, seharusnya kalaupun belum bisa membantu agar ibunya bisa pulang ke Tanah air paling tidak jawaban yang menyejukkan, karena walau bagimana pun mereka ini kan merupakan anak kandung Ibu Tutik.

 

“Saya sendiri heran dan merasa prihatin atas sikap -anaknya, padahal saya sendiri iklas melakukan ini, mengingat bukan hanya ibu Tutik ini saja tapi banyak orang -orang yang saya bantu di Malaysia ini, setidaknya anaknya jangan seperti itu paling tidak ada jawaban yang positif saya terima, bukannya serta merta leave atau keluar dari Group yang saya buat, miris melihat penomena seperti ini, seburuk -buruknya orang tua paling tidak anaknya harus mempunyai empaty dan peduli terhadap orang tuanya, lah ini malah sebaliknya,” Jelasnya.

Dewi juga merasa tidak habis pikir dengan sikap anak -anaknya, menurutnya apapun alasannya tidak bisa di terima oleh manusia yang mempunyai akal sehat

Seburuk apapun jika namanya orang tua apalagi ibunya yang mengandung dan melahirkan, dan terlantar di Negara orang, anak anak harus bertanggungjawab. Bukan melempar seperti sampah. Setidaknya bisa  mengupayakan untuk pulang ke tanah air dan perlu di rawat di RS supaya kesehatannya pulih. Perkara nanti sudah sehat anak anak mau membuangnya di Tong sampah silahkan.

Lebih lanjut Dewi juga mengatakan bahwa Ia sudah berkordinasi dengan pihak KBRI yang ada di Malaysia, terkait dengan pasport yang dimiliki oleh Tutik menurutnya itu merupakan pasport keperluannya untuk bekerja di Negara tersebut, karena dengan jelas sekali berdasarkan paspor tersebut alamatnya  ditujukan ke tempat dimana Tutik Bekerja, cuma persoalannya untuk saat ini nomor majikannya yang belum dia dapatkan untuk menghubungi agar dia bisa mengerti seperti apa kronologis yang terjadi sebenarnya antara majikan dan ibu Tutik.

“Saya sendiri sudah komukasikan dengan pihak KBRI  yang ada di Malaysia, cuma memang kemarin sempat di janjikan untuk segera di tindak lanjuti atau dicarikan solusinya agar ibu Tutik ini bisa pulang ke Tanah Air, mengingat di usianya yang sudah tua sepertinya memang sudah tidak layak untuk dipekerjakan menjadi Tenaga Kerja, saya berharap dalam hal ini Pemerintah serta pihak -pihak terkait yang ada di Indonesia agar bisa mengupayakan serta memfasilitasi kepulangan Ibu Tutik ke Tanah Air,”,” Tandasnya.

Dengan dipublikasikan berita ini agar pihak -pihak terkait bisa mengupayakan agar ibu Tutik ini bisa kembali ke Tanah Air, mengingat walau bagaimana pun ini merupakan bagian dari tanggung jawab Negara, karena ibu Tutik bagian dari Pahlawan Devisa Negara, Edukasi juga buat penyalur Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) untuk selektif dalam rekrutmen dan pastinya harus bertanggung jawab agar tenaga kerja tersebut benar -benar di tangan yang tepat serta bertanggung jawab.

Bahwa pada tanggal 24 Maret 2025 sekitar jam 02.00 pagi dini hari  Ibu Tutik  dalam keadaan  sesak napas , menghembuskan napas terahir , dan selanjutnya  dewi kolifah menghubungi Ambulance dan Kepolisian setempat atau PDRM  dan tidak waktu lama Ambulace dan Kepolisian Malaysia datang ke kantor HTW untuk Olah TKP dan membawah jenazah ke Rumah sakit dan selanjutnya di serahkan ke KBRI untuk memulangkan ke  Daerahnya di Kediri Jawa Timur

Bahwa kami Human Trafficking Watch mengharapkan agar Bupati atau pemerintah Kediri dapat dan segera Mengurus dan memulangkan Jenazah korban ke kampung halamannya sebagai bukti nyata kepedulian Pemimpin daerah kepada Rakyatnya yang bermasalah dimana pun berada .

HUMAN TRAFFICKING WATCH HTW

PATAR SIHOTANG SH MH

DEWI KHOLIFAH

www.pemantauperdaganganmanusia.com

https://www.youtube.com/shorts/VgiL6ymxocw

 

 

About admin

Pemantau Perdagangan Manusia

Comments are closed.

Scroll To Top